Literasi Digital di Provinsi Jambi Masih Perlu Diperkuat untuk mewujudkan Generasi Pelajar yang Kritis dan Beradaya Saing
.
Jambi – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Internet kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, mulai dari proses belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga memperoleh informasi. Kemudahan akses terhadap teknologi digital memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup, memperluas wawasan, serta mengembangkan potensi diri. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi, yakni rendahnya kemampuan literasi digital di kalangan masyarakat.
Berdasarkan hasil kajian dalam karya ilmiah mengenai kondisi literasi digital di Provinsi Jambi, penggunaan internet masyarakat masih didominasi untuk aktivitas hiburan, seperti mengakses media sosial, bermain gim daring, menonton video, hingga mengonsumsi berbagai bentuk konten digital. Di sisi lain, pemanfaatan internet sebagai sarana pembelajaran, peningkatan kompetensi, pengembangan keterampilan, serta pencarian informasi dari sumber yang kredibel masih belum optimal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tingginya intensitas penggunaan internet belum tentu diikuti dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Padahal, di era digital saat ini, kemampuan mengakses informasi saja tidak lagi cukup. Masyarakat dituntut memiliki kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, serta memverifikasi setiap informasi yang diterima agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Data menunjukkan bahwa tingkat literasi digital Provinsi Jambi berada pada **kategori sedang** dengan skor indeks sebesar **3,41**. Meskipun berada pada kategori menengah secara nasional, angka tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan kualitas literasi digital masyarakat. Di sisi lain, tingkat penggunaan internet di Provinsi Jambi mencapai **87,71 persen**, bahkan berada di atas rata-rata nasional. Kondisi ini menggambarkan bahwa akses terhadap teknologi digital sudah sangat luas, namun kualitas pemanfaatannya masih perlu terus diperkuat.
Salah satu persoalan yang masih sering ditemui adalah rendahnya kemampuan masyarakat dalam memverifikasi kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Tidak sedikit masyarakat yang masih mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa memastikan sumber maupun validitasnya. Akibatnya, penyebaran hoaks, disinformasi, hingga berbagai bentuk penipuan digital masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Selain itu, kesadaran masyarakat mengenai keamanan digital juga masih perlu ditingkatkan. Banyak pengguna internet yang belum memahami pentingnya menjaga data pribadi, menggunakan kata sandi yang aman, menghindari tautan mencurigakan, serta memahami berbagai bentuk kejahatan siber yang semakin berkembang. Rendahnya kesadaran ini dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan data pribadi maupun tindak kejahatan digital lainnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta berbagai komunitas dan pegiat teknologi terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat. Berbagai program pelatihan, seminar, sosialisasi, hingga edukasi mengenai keamanan digital terus digencarkan sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan masyarakat yang cakap digital.
Bagi kalangan pelajar, literasi digital merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting untuk dimiliki. Pelajar sebagai generasi penerus bangsa diharapkan tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai sarana untuk belajar, berkarya, berinovasi, serta menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Kemampuan berpikir kritis, menyaring informasi, mengolah data, hingga menciptakan karya kreatif berbasis teknologi menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (*Artificial Intelligence*), media sosial, serta transformasi digital di berbagai sektor, pelajar dituntut menjadi generasi yang adaptif terhadap perubahan. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses informasi, membangun jejaring kolaborasi, hingga mengembangkan potensi diri secara maksimal. Sebaliknya, tanpa kemampuan literasi digital yang memadai, pelajar berisiko menjadi pengguna teknologi yang pasif, mudah terpengaruh informasi yang salah, serta kurang mampu bersaing di masa depan.
Oleh karena itu, peningkatan literasi digital tidak dapat menjadi tanggung jawab satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi kepemudaan, komunitas, dan masyarakat agar budaya literasi digital dapat tumbuh secara berkelanjutan. Sekolah dapat mengintegrasikan literasi digital ke dalam proses pembelajaran, keluarga dapat membimbing penggunaan teknologi yang sehat, sementara organisasi kepemudaan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan inovasi berbasis digital.
Melalui sinergi tersebut, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital. Dengan demikian, literasi digital dapat menjadi fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang di era digital. Upaya peningkatan literasi digital bukan hanya menjadi kebutuhan saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa.
